The Gravel of Mind

every little thing I spit..

Category: reviews

Food Treasure

I went to this blog  and I feel like licking and chewing my monitor

Advertisements

ICAD & World Press Photo 09

I went to Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) at Grand Kemang,

the artworks are uber cool:

Indonesian artists should make such exhibition more often. I found several artworks are already sold, the price are supper. For one painting, it worth about $7000, I’ll totally be rich in a second.

Unfortunately, I don’t have that talent.

It’s rejuvenating seeing some artworks in the first day of the year. Yay 2010, and we’re all getting older. But not my spirit. My spirit will stay young.

And then we headed to Pacific Place to see World Press Photo 09,

It was breath taking.

See the last photo? He is a victim of Cyclone Nargis in Burma. His skins turned out wizened. I cannot imagine being a press photographer in such atmosphere. I must be going nuts. You should go there. It opens until January 4th.

But most of all,

I certainly am, AMUSED by the exhibitions. I starve of artworks.

Steadier Footing

It’s gotten late and now i want to be alone
All of our friends were here, they all have gone home
And here i sit on the front porch watching the drunks stumble forth into the night
“you gave me a heart attack; i did not see you there. i thought you had disappeared so early away from here.”
And this is the chance I never got to make a move.
But we just talk about the people we’ve met in the last 5 years.
And will remember them in ten more?
I let you bum a smoke, you quit this winter past.
I’ve tried twice before but like this, it just will not last.

THE S.I.G.I.T “Dyslexia Concert” June20th 2009

The Venue Concert Hall Eldorado, Bandung udah terisi oleh ribuan penonton yang menunggu sang panutan hidup untuk segera beratraksi diatas panggung. Tapi seperti yang kita tau, we can’t expect too high on Indonesian time schedule. Ngaret cuy! nah, pada jam 20:30an stage masi diisi oleh Monkey to Millionaire. I never heard their songs but they sounded good. terus dengan jeda yang cukup panjang, Speaker People dimanjakan oleh aksi Tuhan mereka Speaker 1st. ber-rock n roll ria sekitar 5 lagu. gua uda siap-siap teriak2 di lagu “Tak Apa Seperti yang Kau Pinta”, tapi ditengah reff si vokalis agak kehabisan napas. I don’t mind.

Jam 20:50 which is ngaret 1 jam, akhirnya si kang Rekti keluar.. mereka (Farri, Acil, Adit) pake kemeja layaknya rockstar papan atas  ganteng2. dibuka oleh alunan “Black Amplifire” dengan sedikit aransemen dyslexia (gagap) haha. keren banget cuy!!! ohoow.. semua penonton sing along. yang moshing sudah tidak tentu arah. Dari penampilan pertama mereka, energi kita uda dihisap abis. Lagu dari Album “Visible Idea of Perfection” selalu ditunggu oleh penggemar. gua rasa sulit untuk meninggalkan kulikan lagu-lagu dari album itu. udah pas banget dikuping.

Tapi di album Hertz Dyslexia materi lagu mereka lebih mateng cuy. ada unsur darkish rock n roll dengan paduan bunyi bass-drum yang terputus-putus. gua suka banget. tapi nyari albumnya susah. alesannya ya abis ya ga ada di toko. ditengah acara Rekti bilang, “ini akustik pertama selama mereka manggung di stage”, sekejap Hall The Venue Eldorado penuh dengan bintang-bintang kecil berwarna biru, merah, ijo dll. suasana jadi romantis. The S.I.G.I.T cuy! menggodok romantisme di panggung pertama! beberapa penonton ada yang menyalakan korek gasnya (yang uda dilarang) untuk ikut membuat suasana semakin sendu. Black Amplifire-accoustic version/My Generation/Live In New York, sebagai lagu yang jarang ditampilkan bisa gua liat sekarang. wkwkkwk

Biasalah, mereka uda saying goodbye dan penonton berteriak (We Want More! -bukan Ni No Nor) beberapa kali. The S.I.G.I.T keluar dari panggung. selang 5 menit, mereka keluar lagi dengan kaos oblong yang biasa kita liat kalo mereka manggung. tapi they’re adorable. hahaha. membawakan clove doper dan soul sister yang membuat beringas para penonton. Si Rekti lalu ngajak jamming masal dengan melempar kecrekan anak2 yang berjumlah puluhan kepada penonton, tapi ga maksimal bunyi kecrekannya. konser lalu diakhiri oleh lagu Money Makin’ dari album mereka yang baru, penonton dihujani dengan ribuan uang dollar yang beremblem The S.I.G.I.T (gau aja dapet 10cuy) haha. gila kita ke konser The S.I.G.I.T dapet oleh-oleh banyak banget. seneng banget deh.

Pengalaman itu ga pernah gua rasain di konser yang lain. Hanya dengan harga tiket Rp 20.000 lo bisa puas nonton dan dapet souvenir (kayak kondangan) wkkwkwkw. haah, mereka lalu berpisah dengan penonton sambil teriak “Sampai Jumpa Tahun Depan!!!” penonton bersorak “YEAAAAHHHH!”. tentunya hal tersebut ga bisa kita dapet dari konsernya “Wali Band” kan cuy. wkwkwk

Bandung Musicians

I love THE S.I.G.I.T

THE S.I.G.I.T, A tribute to Sir Ading, Bumi Sangkuriang

They are leaders.

I think there are many amusing indie bands in Indonesia, particularly in Bandung. I often say to my friend that I love Bandung musicians. Fortunately they are more appreciative and not argumentative. They just make music, play it on stage (or not) until they sweat on it.

When I was in High School back then, I went to indie gigs almost in every week. The gigs were held in some cafes or  squares. I can say that there was my place, where i belong, hearing and seeing stage performances.

The genres such Screamo or rock n roll are often being my choice in music. I heard ARCK, I heard Too Late To Notice, I heard MARCH, I heard KILLM’S, etc.

It is very different now. I got assumption that i prefer Bandung musicians. I’m in love with THE S.I.G.I.T in 2nd grade, trying to hear their album every morning, and also sleep with it.

Now in my year of college, I take a look at some good gigs that’re held. I like Indie folks such as C.U.T.S, Speaker 1st, Contra Indigo etc. The front man of SPEAKER 1st said “Gua bangga banget lahir dan jadi musisi di Bandung, satu sama lain saling peduli, dan sangat apresiatif”. And it was echoing in my ears. I like his statement. I think it’s true.

The S.I.G.I.T new album called ” Hertz Dyslexia ” has been issued!

TIRED to be COMMITTED

Hancur otak gua rasanya. Badan gua udah ga fit sekarang. Perhatian gua uda kesebar kemana-mana ngga karuan. Gua benci banget hal kaya gini. Tai.

Well, gua stop smoking for awhile. Gua mo jaga dulu kesehatan ini. Hff.. cape bangsat.

Uda 3 hari ini gua cape. Bukan cape fisik aja, tapi cape otak juga. Ngikutin suatu acara jurusan yang gua bilang bonafit. Over all, mission accomplished si! Tapi ada oknum-oknum yang kaga bisa jaga keprofesionalitasan aja. MAMPET!

Terimakasih kepada anak-anak divisi PUBLIKASI-DOKUMENTASI gua yang sangat memberikan 100 % perhatiannya pada tugas masing-masing dan tidak menyepelekan masalah. Kalian adalah orang-orang yang kompeten.

Sebagai kordinator divisi PUBDOK di acara ini, gua berurusan dengan -tai banyak banget pihak.- Kordinasi ke atas, ke bawah, horizontal. Hal itu gua lakukan satu demi satu, sabar, berkepala dingin, SIGAP dan perhatian. Supaya ga bakal merugikan yaa at least kerjaan gua sendiri.

Panitia, panitia,,…

Pada kecapean kali ya, kita semua.

Gila,.

Gua minta maaf secara pribadi, kalo gua sering membentak pihak lain, memberikan tatapan “BLAMING”, dll. Kita semua begitu, pasti! Jadi gua ga ada sakit hati sama sekali dengan setiap panitia. Ngapain juga sakit hati, wasting tenaga, hati dan pikiran gua yang jauh lebih bermanfaat untuk hal lain. Cuma “KE TIDAK-PROFESIONALTASAN” diantara beberapa panitia itu yang gua bener-bener bakalan bilang ENOUGH kerja sama dengan mereka yang mau gua review. Gua memilih setiap langkah hidup gua, dan ga akan gua ulangin untuk berada di situasi yang sama dengan mereka.

Et, mending gua tulis aja poin-poin yang memperlihatkan bahwa seseorang KURANG atau bahkan TIDAK PROFESIONAL:

  • Suka mengelak pekerjaan.
  • Suka melempar pekerjaan.
  • Tidak bisa membantu dan memberikan jawaban dengan akurat.
  • Jika dimintai tolong “setengah-setengah” bahkan cenderung menganggap sepele. Dan hasil OUTPUT jadi berantakan!
  • Menggunakan alasan-alasan yang childish.
  • Suka membela diri sendiri lebih dari pada membantu divisinya sendiri, atau panitia yang membutuhkan adanya diri si panitia itu.
  • Bisa menyangkal sangat-sangat baik.
  • Kalo di kritik, suka ngga terima. Terus cari orang untuk diceritain permasalahan dan mendoktrinasi pikiran dengan pandangan dia saja. Padahal kalo kritik, pasti ada benarnya.
  • Kalo diminta tolong, marah-marah. Terus NGAMBEK.
  • Gaji buta, ngga kerja, nongkrong dibelakang, makan-makan, ngerokok, beresin sampah.. (lah?)
  • Suka menyalahkan divisi yang meminta tolong dengan dirinya dengan alasan, “LAGIAN KENAPA GA DIVISI DIA AJA YANG DISURUH? KAN ANAK-ANAKNYA BANYAK” lah, terus kalo ga bisa dimintain tolong, kenapa ga nolak aja? Bbah.. malah BERANTAKAN OUTPUT GUA! Kalo nolak kan ga bakal punya tanggung jawab!
  • Panitia yang suka ngga ngangkat hp pas diperluin. Terus pas ditelfon lagi, uda dimatiin. (sengaja banget).
  • Panitia yang disuruh NELFON orang, tapi kaya Keberatan banget. Dasar pantat. Pulsa abis ya wajarlah.
  • Dll, dll..

Haah, akhirnya gua post juga nih isi otak dan hati yang hampir mo pecah (ga ada unsur yang dilebih-lebihkan, mo pecah beneran ni otak). Tapi sekarang uda lega. Terimakasih, Atnan, Regi, temen-temen PUBDOK yang memberikan curahan perhatiannya kepada perasaan gua. Dan hasil kerja kita, BAGUS BANGET! Masih sisa sertifikat yang salah ya, Danish.. hehehe (kalo baca).

Sekarang udah lega dan gua mau berterimakasih kepada setiap pihak yang sudah berbaik hati memberikan senyuman ketika dimintai tolong.. senyuman kalian itu lebih fulfilling deh. Makasi ya…

Hug PUBDOK CIHEUY!

(this post is referred to some people who realize, I don’t care if you hate this, cos I don’t give a shit dudes.

And I want my PUBDOK kids to read,

Atnan, Danish, Gilang, Ibonk, Itink, Keshia, Lala, Regi, Stella, Via, Viktor, Wewe.

Terimakasih banyak ya!)

Dadah.

Never doubt that a small group of thoughtful committed citizens can change the world: Indeed it’s the only thing that ever has. –  Margaret Mead

PUBDOK

PUBDOK

Konser Story of The Year di Jakarta, 5 Juni 2008

SOTYKonser band asal St. Louis, Arizona Story of The Year yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta kemarin malam berlangsung “cadas”. Pertunjukan yang dibuka oleh performa band asal Canada “Your Favorite Enemies” itu mendatangkan anak-anak emo dan metal dari berbagai pelosok kota. Gua terkagum-kagum ngeliat Dan Marsala berulang kali mengeluarkan screamnya dengan stabil. Scream yang dikeluarkan front man SOTY (Story of TheYear) itu merupakan scream terindah yang pernah gua denger (yang kedua adalah vokal Bert McCracken dari The Used).

Lantunan lagu-lagu dari album pertama sampe ketiga disambut antusias oleh para penonton, mereka memperlihatkan kesan “haus” akan lagu apa yang akan dilantunkan selanjutnya. Loncatan, hentakan, teriakan dan ayunan tangan yang menggebu-gebu serentak meng’elu-elu’kan Story of The Year. Membuat para personil berakting “liar” dan kacau. Lagu-lagu andalan seperti Sidewalks, Anthem of Our Dying Day, In The Shadows dan Until The Day I Die menggema arena konser karena serentak dinyanyikan bersama.

Konser semalam memang tidak sepenuh konser Muse, Saosin dan Fall Out Boy (gua pikir hal itu terjadi karena promoter acara bukan Java Musikindo). Terasa sekali perbedaan ketika gua nonton konser yang diselenggarakan oleh Java Musikindo tersebut. Dilihat dari harga tiket tidak terlampau mahal, lalu penjagaannya kurang ketat (gua ngeliat ada panitia yang ikutan nonton dan ada yang bawa Handy-Cam, tau gitu gua bawa DSLR), selain itu publikasinya tidak “jor-joran” seperti yang sering dilakukan Java. Namun crowd yang mayoritas anak-anak emo tersebut merasa sangat terpuaskan oleh performa itu termasuk gua (tp gua bkn emo). Entah kenapa gua mo mengulang malem kemaren. Muahhahaha

Konser yang chaotic tersebut memang uda ciri khasnya SOTY pada saat perform. Tadi malam Adam Russel (Basis) tiba-tiba menggantikan posisi Dan Marsala and scream in the end of the song All We Never Know. Tiba-tiba Dan mengganti posisi di drum, dan Josh Wills (drummer) di bass.. Real nice performance. Chaos!

SOTY baru saja merilis album baru berjudul The Black Swan. Dengan singles nya Wake Up, The Black Swan, Tell Me (PAC). Gua uda dengerin album mereka yang ketiga dan mendengar lantunan lagu-lagu tersebut. Agak wonder, kok kali ini menyerupai saosin sedikit ya aransemen lagunya? Tapi after all, album ini sangat worth untuk didengarkan berulang-ulang.

Yang gua pengen kritik, band pembuka sangat membosankan. Membawakan lagu alternative metal yang tidak mudah dicerna. Sang vocalist pria berulang kali meneriakan “Are You with Me Tonight?”, membuat para penonton bingung. Selain itu ada adegan romantis antara vokalis pria dan wanita (kurang menarik), suara vokalis wanita tidak terdengar jelas, setiap kali do’i menyanyi, vokalis pria selalu berteriak-teriak. Ditambah mereka menterjemahkan C’mon menjadi ”Ayo!” dan jump menjadi “lompat!”. Jadi ketika disuruh “C’mon, jump! Jump! Jump!”, diganti menjadi “Ayo, lompat! Lompat! Lompat!” terkesan seperti retard. (but I appreciate that they wanna learn about our language though) but it was awful, penonton merasa bosan.

Dibalik semua itu, pertunjukan Story of The Year sangat memenuhi dahaga gua dalam menikmati sebuah konser. They are absolutely one of many talented bands. Gua harap bisa nonton konser yang kaya gini lagi some other time. Dibalik kecaman-kecaman kenaikan harga BBM dan tragedy monas oleh sejumlah ormas, gua masih muda, gua pengen menikmati konser yang orangtua uda susah nikmati. Hahahha, youth ego is still with me. But I’m sure young people act responsibly to everything they do.