The Gravel of Mind

every little thing I spit..

Category: Indonesia

Visit Indonesia

I post this in regards that this May 25-27th 2010, world is having “THE GLOBAL TRAVEL & TOURISM SUMMIT” in Beijing.

So it wouldn’t hurt for me exposing my country’s exotic sceneries and rich cultures. We “go cheap”, you won’t spend loads of your dollars or any other currencies to experience those moments in the video.

Unlike any other countries which set very high rates on their hotels, transportation, culinary, but very few offers of tourists spots, you could set a price on your own here. You may pick luxurious trip, or “backpacking”. They’re all worth it.

Trust me, there are a lot to see in Indonesia. For you who do photography on nature landscapes and eventful moments, my country is the queen of beauty, your eyes will be pleased and embraced easily.

To be noted, our country is still developing. But the capital city (Jakarta) expresses  elegant metropolitan society. From expensive malls to low-prices flea markets, hi-rates restaurants to side walk dishes,from  motels to 5 stars hotels, everything is here.

So to tourists who are about to begin a delightful journey, look Indonesia up in your “Lonely Planet” book.  😀

See you here.

Advertisements

Swam with them in Karimun Jawa.

Thrilling.

Luangkan waktu di Jogjakarta

Minggu lalu gua baru aja balik dari liburan bersama sekumpulan teman ke Jogjakarta. Tempat yang terkenal dengan batik, gudeg, dan nuansa Keratonnya. Gua bepergian dengan tiga orang teman menggunakan kereta. Liburan yang direncanakan kurang lebih dua bulan ini, berlangsung sangat menyenangkan. Gua melakukan backpacking dan berbudget pas-pasan alias tidak lebih sama sekali.

Gua stay di sebuah losmen di daerah Jl. Sosrowijayan, Malioboro bernama Losmen Lucy, yang pemiliknya bernama Ibu Lucy. Losmen yang cukup friendly, bersih, kamar yang cukup luas dan sangat terjangkau dengan harga Rp 60.000 per malam. Banyak turis asing yang menginap di sana dan stay berbulan-bulan. Informasi gua dapatkan dari Internet dan buku Lonely Planet to Indonesia. (Jl. Sosrowijayan merupakan jalan yang terkenal akan hotel-hotel murahnya.)

Kematangan rencana dan lengkapnya informasi tentang Jogja tersebut memberikan berbagai macam kentungan buat gua dan teman-teman. Di sini, gua akan berbagi tips suapaya lo dapat menikmati liburan yang menyenangkan tanpa budget yang tinggi untuk Jogjakarta.

Pertama-tama, gua menggunakan kereta Fajar Utama jurusan Stasiun Tugu, Jogjakarta dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta jam 6.20 pagi. Tiket seharga Rp 100.000.- Harga tersebut digolongkan dengan kelas Bisnis non-AC. Kalo lo mau memilih kereta Eksekutif yang AC, lo cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 220.000,-. Tapi karena kemarin gua ngga perlu naik yang AC, gua dan teman-teman memutuskan untuk membeli tiket kereta Rp 100.000,-

Di perjalanan menuju Jogjakarta, gua melihat pemandangan-pemandangan alam pedesaan yang masih alami dan asri. Terutama di daerah Prupuk. Pemandangan alam yang menakjubkan, terdapat gunung-gunung, sawah dan sungai di kejauhan. Pas buat lo yang haus akan suasana pedesaan, karena muak melihat asap kendaraan di perkotaan. Perjalanan memakan waktu selama delapan jam. Kalo lo bercanda dengan teman-teman, tentu waktu yang lama tersebut tidak akan terasa.

Setelah sampai St. Tugu, gua langsung ke losmen di Jl. Sosrowijayan. Tinggal jalan aja uda sampe. Lo ga perlu menghiraukan tukang becak yang menawari ini itu. Karena sangat dekat sekali (lo keluar lewat bagian belakang stasiun). Setelah itu gua berjalan-jalan menghabiskan malam di jalan Malioboro yang hiruk pikuk akan pedagang kerajinan kayu dan batik. Harga-harga barang yang terjangkau dan unik sangat menggugah selera lo yang senang belanja. (Jangan bawa baju banyak-banyak, sediakan tas kosong untuk bawa oleh-oleh pas pulang.)

Esok harinya, gua dan teman-teman berencana untuk pergi ke pantai yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidulnya, yaitu Pantai Parang Tritis. Kalo lo ke Jogja dan mo kesana, lo ngga perlu bingung. Cukup dengan naik Busway jurusan Terminal Giwangan dengan harga Rp 3000,- saja, lalu dilanjutkan dengan bus-bus kecil yang pergi ke Pantai tersebut. Lo tanya aja jurusan Parang Tritis. Perjalanan ke sana memakan waktu 30-45 menit saja. Tergantung “ngetem”nya si abang. Ongkos sekali jalan Rp 10.000,- dan langsung turun di depan pantainya. Sangat mudah.

Untuk pulang ke terminal Giwangan lagi, bus hanya terdapat sampai batas jam 17.15 saja. Lebih dari itu, lo ngga bisa pulang naik bis. Karena jam 6 angkutan umum di Jogja sudah tidak beroperasi lagi.

Parang Tritis merupakan pantai yang sangat indah, di sebelah kiri pantai tersbut ada bukit besar yang mengelilingi pantainya.

Setelah cape main di pantai, kita semua pulang dan makan di daerah Maliboro. Di sana terdapat makanan murah dan bermacam-macam. Tetapi lo harus jeli dalam memilih tempat makannya. Karena tempat makanan lesehan ada yang mahal dan ada yang murah. Lo bisa makan nasi gudeg ato pecel yang lesehan. Ato makan sate lontong di depan Benteng Vredeburg dengan harga Rp 4000,-. Pertamanya sih gua agak ragu karena takut makanan tersebut stock lama, tapi ternyata ngga dan lama-lama gua keenakan lalu nambah. Muahhahaha. Berat badan langsung naik selama di Jogja.

Keesokan harinya, gua dan teman-teman melanjutkan perjalan ke Candi Borobudur. Sebuah candi Budhist yang termasuk 7 keajaiban dunia. Transportasi yang gua pakai adalah busway ke terminal Giwangan dan lanjut dengan bus-bus yang ke Borobudur. Seperti Cemara Tunggal dll. Ongkos perjalanan dari terminal Giwangan hanya Rp 12.000,-

Gua mengelilingi candi yang sangat megah tersebut. Memang unik dan besar sekali. Serta konon katanya, kalo lo ke atas, dan megang patung buddha, lalu berdo’a, maka keinginan lo terkabul. Gua si ngga percaya, tapi toh gua lakuin juga. Hehehe..

Hari terakhir gua ke Keraton. Sebuah istana kesultanan Jogjakarta yang terkenal akan Sultan Hamengkubuwono ke-9 nya. Sampe sekarang sih masi terkenal, tp kayanya sultan yang happening banget tuh, Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9. yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan Menteri HANKAM kita dulu, yaitu Bpk. Dorojatun.

Di Keraton, masih banyak terdapat abdi dalam Sri Sultan. Mereka menggunakan pakaian adat khas Jogja plus blangkonnya. Masuk ke Keraton seharga Rp 5000,-. Kalo turis asing Rp 12.500 izin foto plus Rp 1000,- murah lah.

Yang pengen gua kasi tau, ketika lo menikmati keindahan Jogjakarta, lo jangan mau di tawarin tukang becak gitu aja. Mereka menawarkan harga dorong becak cukup miring. Yaitu berkisar Rp 3000-5000,- saja, lo bisa kemana-mana. Emang sih, lo dibawa mengitari Jogja. Tapi lo akan dibawa kepertokon-pertokoan yang belum tentu lo mau. Contohnya nih, “Mbak, becak Mbak, ke bakpia, dagadu Cuma Rp 3000, Mbak”. Kalo lo emang maunya beli bakpia dan Dagadu ya oke. Tapi kalo lo ngga mau, jadinya bete. Mang belanja Cuma di bakpia dan Dagadu aja. Kan ngga juga. Ehhehe..

Lagian ya, gua pengen bilangin, kaos-kaos jenaka bermerk Dagadu yang asli itu cuma ada di Malioboro Mall. Bukan di Gang-gang ato jalan-jalan lainnya. Itu palsu semua. Tukang becak dan konco-konconya aja yang bilang asli padahal palsu. Terus kalo lo mo bakpia, lo beli bakpia yang bermerk Bakpia “25”, “75” dan lain-lain. Karena selain itu, rasa bakpianya kurang legit. Bahkan ada yang di plesetin Bakpia “52” dan Bakpia “57”. Angkanya doang yang dibalik, namun rasanya biasa aja.

Kalo backpacking lo harus udah siap dengan uang yang akan lo gunakan untuk belanja dan makan. Serta antisipasi jika kekurangan. Mendingan uang jangan di taro di dompet semua. Tapi yang perlu di kantong aja. Terus, taro di ATM setengahnya. Biar kalo kecopetan uang, masih bisa ngambil ATM. Kartu ATM juga jangan di dompet.

Perjalanan dengan budget sederhana seperti ini sangat sering dibilang kere or something. Padahal justru lo dapat mengelillingi suatu daerah yang belom pernah lo kenal dengan maksimal dengan mencari informasi-informasi yang tepat. Tips gua sih jangan males nelfon Costumer Service TELKOM 108. karena berguna banget untuk nanya apa aja. Kalo lo mau nanya Costumer Service PT. KA lo cukup pijit nomor 021-6916060 untuk nanya harga tiket dan jurusan. Khusus Jakarta. Kalo daerah lain, telfon aja 108 dan tanya call center PT. KA-nya.

Jogjakarta merupakan kota yang pas sebagai kota tujuan lo untuk berbackpacking. Kota tersebut menjadi tempat debut gua berjalan-jalan sederhana tanpa orangtua. Hahaha…. Dan gua jadi ingin melakukannya lagi-lagi dan lagi ke kota yang lain, bahkan pulau-pulau yang belum tersentuh turis. (muahahahha ngayal).

Kebudayaan Jawa yang lembut dan sopan, kultur yang menarik dengan berbagai macam kerajinan tangannya. Dan kekhasan kekaisaran Keratonnya yang di puji oleh berbagai Negara di dunia merupakan daya tarik kota Jogja. Itulah Jogjakarta. Lo harus kesana.

berikut adalah beberapa foto-foto yang gua ambil di jogja:

Pictures by Meutia Ananda

1. Stasiun Tugu, Jogjakarta

2. Pasar Beringharjo, Malioboro (grosir batik)

3. Pantai Parang Tritis

4. Candi Borobudur

5. Bank Indonesia, Malioboro

6. Railway to Jogja

Mengkritisi lalu lintas kota Jakarta

Warga kota Jakarta mempunyai mobilitas berkendara yang cukup tinggi. Didasarkan oleh adanya berbagai kebutuhan yang mengharuskan mereka untuk pergi “kesana-kemari” demi menyelesaikan suatu permasalahan atau kegiatan. Gua termasuk salah satu pengecap rasa pahit dalam berkendara atau bertransportasi di Jakarta. Sebagai warga dari kota ini, gua merasakan ketidakpuasan pada saat melaksanakan kegiatan yang mengharuskan gua untuk keluar. Hal tersebut bermula pada saat gua ‘menyelam’ dalam lalu lintasnya.

Ketika libur, gua dapat kembali ke rumah, kembali menggunakan mobil pribadi untuk bepergian. Karena pada saat gua kuliah, gua menggunakan transportasi umum untuk pergi kemana saja (gua berkuliah di kota lain). Pada saat terjadi kenaikan harga BBM, gua uda mulai berantisipasi akan akibat-akibat yang disebabkan oleh hal tersebut. Yaitu, harga premium yang menjadi sangat mahal. Maka pada saat itu gua memutuskan untuk menggunakan menggunakan transportasi umum demi menghemat dan efficiency.

Tapi Ya Tuhan, mengapa fenomena bertransportasi umum di kota ini sedemikian hancur, sih?! Ketika gua menunggu berhari-hari jawaban Tuhan, ternyata ngga ada jawaban muahahaha. Gua sadar ini adalah salah satu permasalahan akut Negara kita. Bidang yang telah terbodohi oleh karena program-program industrilisasi.

Gua paling ngga suka naik angkot di Jakarta. Akses dari rumah gua (Ciputat) ke daerah-daerah yang mostly gua tuju (Jakarta dan sekitarnya), sangat jauh untuk dilalui dan ber’capek-capek’ di dalam angkot. Itu adalah pilihan akhir gua dalam berkendara. Karena gua lebih prefer kereta, bus, bajaj, ojek, lalu becak. Angkot bener-bener pilihan terkahir.

Hal yang sangat perlu dikritisi adalah:

  • Mengapa terkadang gua masih menemukan angkot yang kurang menyediakan kenyamanan? Hal itu dapat berupa kenyamanan waktu, dan keramahan sang supir. Terkadang “ngetem” angkotnya sangat lama, sehingga gua yang buru-buru harus selalu merasa gelisah takut terlambat. Selain itu, supir-supir yang tidak beretika, ngomong kasar dengan penumpang (sewa) atau melecehkannya. Betapa dirugikan kita semua. Rugi tenaga, uang dan batin. Gua pernah melihat nenek-nenek dikasarin. Gua rasa supir-supir angkot tersebut perlu diberikan pendidikan dalam menjalani profesionalisme pekerjaannya.

Kegiatan ‘mengetem’ Itu merupakan salah satu penyebab kemacetan. Merupakan pilihan terakhir bagi gua ketika tidak mempunyai cukup uang untuk naik taksi atau ojek, terpaksa banget harus naik angkot. Kalo deket mending jalan.

Masalah transportasi yang satu itu perlu disimak oleh pemerintah. Dan birokrat-birokrat yang berurusan dengan bagian perhubungan. Kenyamanan dalam “berangkot” di kota Jakarta masih dalam taraf ‘nol’ bagi gua.

Setelah mengkritisi permasalahan angkot, masih ada hal yang membuat hati miris dalam berlalu-lintas di Jakarta. Yaitu, ‘macet’. Demi Tuhan, macet merupakan penghalang yang sangat mempengaruhi kegiatan berlalu-lintas kita. Sudah banyak cercaan dan makian pengguna jalan terhadap hal ini. Terkadang rasanya kita sampai ‘capek’ mengutuk hal kemacetan tersebut. Setiap gua bertualang ke negri lain, ngga ada yang lebih parah dari Jakarta dalam kemacetan. Kita nomor satu. Untuk on-time dalam mengerjakan tugas saja, kita harus terus menlakukan antisipasi dalam hal ini dengan cara pergi lebih awal. Pada saat-saat seperti ini, satu-satunya hero gua adalah Kereta Listrik.

Ingin sekali membuat ajakan persuasif kepada masyarakat untuk lebih menggunakan kereta dalam melakukan kegiatannya. Gua mulai mengenal kereta pada saat kelas 2 SMA. Saat itu, gua masih takut sama isu-isu banyak copet dan pemalakan anak sekolah dsb. Sekarang gua uda jadi pengguna kereta selama 3 tahun. Dan kendaraan listrik ini adalah pahlawan sepanjang masa gua. Ketika melihat fenomena ‘kemacetan’ di luar jendela kereta, gua hanya tertawa terkekeh-kekeh. Mereka harus ngantri, dan mengontrol gas, rem, kopling yang sangat melelahkan selama berjam-jam. Sedangkan gua “WOOOEEEZZZ” langsung tancap, dan mencapai tempat tujuan hanya dalam hitungan menit. Tidak pernah sampai sejam. Dari Stasiun Sudimara – Stasiun Kota dan sekitarnya. Lalu gua akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Trans Jakarta, bajaj, atau ojek. Tarifnya pun sangat-sangat murah. Pulang pergi jarak jauh tidak pernah lebih dari Rp 25.000,- terkadang hanya Rp 10.000,- jika jarak bepergian hanya melewati 2 stasiun.

Tetapi masih ada hal yang masih gua sayangkan dalam menggunakan kereta.

  • Jadwal kereta selalu molor. Alias selalu telat. Bisa sampai 20 menit. PT.KA telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam pengoperasian jalur kereta tersebut, namun pelaksana kebijakan tersebut masih kurang tegas. Jadwal kereta otomatis membuat keharusan terhadap para pengguna jasa untuk berdisiplin. Karena jika kita ‘molor-molor’ atau tidak disiplin, maka kita akan ketinggalan kereta. Tetapi keretanya sendiri yang suka ‘molor-molor’. Ntah apa yang mesin listrik itu tunggu. Tukang lemper kali.
  • Selain itu kebersihan di dalam kereta masih tidak memuaskan. Sebetulnya sih bukan salah keretanya ya, tapi penggunanya masih suka buang sampah sembarangan. Terutama masyarakat golongan bawah yang masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya sendiri. Tapi tidak sedikit kaum professional yang masih ‘budeg’ dengan larangan membuang sampah sembarangan tersebut. Perlu diberi ketegasan dan pengawasan, serta sanksinya.
  • Yang ketiga, para pengguna kereta masih ngga ‘santai’ dalam mengantri memasuki kereta. Takut ketinggalan kali ya. Tapi akibatnya setiap gua naik kereta, selalu berdesak-desakan. Kurang nyaman, walau dalam beberapa menit lagi gua sampai tujuan. Tetapi para pengguna perlu diperingati dan diberi pengarahan agar tidak berdesak-desakan.

Ketika gua menggunakan kereta, gua harus merasa melas sebentar ngeliat masyarakat yang masih banyak tidak peduli terhadap lingkungan. Tapi ya ngga apa-apa, toh gua bayar Cuma Rp 1500,- sampai Rp 6000,- , ngga rugi lah daripada beli bensinRp 6000,-/liter. Mending naik kereta, murah, cepat sampai, dan ngga merasakan macet.

Ketika membaca Koran, gua menemukan artikel tentang perlalu-lintasan kota Jakarta yang kurang efektif dan tidak efisien. Ternyata, pada saat bangsa Belanda menempatkan pemerintahan di Indonesia, Jakarta pernah menjadi kota yang mempunyai alat transportasi paling modern dan sempurna dari Negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Pada saat itu kita mempunyai Trem atau kereta listrik (seperti di Negara-negara Eropa). Dengan adanya Trem tersebut, kondisi perhubungan kota ini menjadi sangat lancar dan mudah. Karena kereta listrik tersebut dapat menjangkau ke daerah-daerah yang sempit bahkan sampai ke pelosok. Pada saat pemerintahan mantan Presiden Soeharto, penggunaan Trem tersebut dihentikan. Beliau mengutamakan akses lalu-lintas dengan memprioritaskan mobil-mobil pribadi. Padahal kalau Trem tersebut digunakan sekarang, kita melakukan penghematan yang luar biasa, karena dijalankan dengan tenaga air (hydroelectric plant). Ngga pake BBM.

Yah, sekarang sih pemerintah lagi ngurusin masalah FPI, kenaikan harga minyak berbagai tindak pidana korupsi yang ujungnya semakin menjadi-jadi karena tidak adanya ketegasan hukum, birokrat dan aparatur yang masih ‘lame’. Mana sempat memikirkan peningkatan kenyamanan dalam bidang transportasi.

Hujatan terhadap pemerintah Indonesia

Gua menulis ini atas dasar pendapat gua pribadi, dan siapapun boleh tidak setuju dengan pendapat gua ini. Berita paling panas sekarang ini adalah “Kenaikan harga BBM”. Kita melihat dan mendengar banyaknya hujatan terhadap pemerintah atas kenaikan harga tersebut di TV atau media lainnya. Setiap hari, berbagai demonstrasi dan unjuk rasa dilakukan. Sekan-akan rakyat Indonesia telah dibutakan oleh peristiwa tersebut dan berbagai peristiwa yang terjadi dulu. Ini membuat hati gua miris. Terus terang gua agak kasian sama pemerintah (yah emang rasa sensitivitas gua tinggi, apalagi di daerah ‘itu’), bangsa ini udah mulai ngga menghargai nilai-nilai yang ditanam pada diri mereka. Maraknya pemilihan-pemilihan calon wakil daerah, yang menghabiskan ratusan juta demi suara rakyat (pake acara suap), kenapa kaga didemo dah?

Sebagai mahasiswa, gua punya prinsip sendiri. Mengekspresikan perasaan dan mengeluarkan aspirasi rakyat bisa dilakukan dengan cara yang nyaman, penuh damai, dan tertib. Ngga pakelah, acara bakar-bakaran keranda mayat demi memperlihatkan keadaan hati pemerintah yang ceritanya ‘udah mati’. Boleh sih. Gua ngga bersikap seolah-olah itu perbuatan terlarang. Well, I’m just not concerned in need doing those destructive demonstrations to show. Sebuah pendapat yang bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran setiap mahasiswa yang hendak melakukan unjuk rasa.

Dilain cara, kita bisa melakukannya dengan mengirimkan surat kepada pemerintah (harap kirim ke sub bagian dari birokrasi-birokrasi yang bersangkutan, jangan kirim ke SBY langsung, doi risih, dan alhasil surat lo disobek-sobek, dicabik-cabik, dijilat-jilat, diemut, dikulum, dll.), lalu dengan menulis di koran-koran, majalah-majalah, seperti Tajuk Rencana dan Opini Rakyat atau membuat sebuah blog di Internet.

Rasanya banyak sekali cara yang dapat kita lakukan. Masih ada cara yang lebih bersifat konstruktif. Seperti membuat seminar-seminar. Sehingga para pendengar dan peserta seminar terdoktrinasi untuk ikut memperbaiki kacaunya suasana Negara kita saat ini. Bahkan, lo bisa kirim SMS ke Koran-koran, atau media elektronik seperti Televisi dan Radio. It’s quite cool.

Kalo mau ke Gedung MPR dan DPR, jangan buat kemacetan lalu lintas. Kalo mau bikin acara unjuk rasa kaya gitu, panitia unjuk rasa kudu bertanggung jawab membuat acara berjalan aman dan jalanan lancar. Sifat para pengunjuk rasa yang terkadang acuh tak acuh dan hanya mementingkan keberhasilan misinya tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, membuat kualitas keharmonisan Negara ini menjadi berkurang. Sungguh –sungguh disayangkan.

Kita tidak dapat menempatkan kepentingan kelompok apalagi pribadi sebagai kepentingan utama yang harus segera dibereskan pemerintah. Sebagai mahasiswa, gua kurang setuju dnegan aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu, dijalankan oleh mahasiswa-mahasiswa UNAS, dan berakhir di sel kepolisian. Ternyata e ternyata, ketika dilakukan razia oleh polisi yang menjaga demo tersebut, ditemukan beberapa bom Molotov, ganja, alcohol, jamu buyung upik (oops salah) dan lain-lain. Mengapa mereka bertindak ceroboh seperti itu. Gua mendukung kegiatan unjuk rasa, seperti yang rakyat Indonesia (dua hari sekali) lakukan, namun gua akan menertawakan kecerobohan mereka dengan membawa barang-barang pribadi tersebut ke lapangan. Sungguh sebuah kehancuran. Apakah demonstrasi tersebut akan digubris oleh pemerintah? Tentunya Ya, pemerintah akan menggubris mengenai kenakalan mahasiswa yang berakibat mencoreng nama kampusnya sendiri. Bos, mahasiswa sekarang kudu well-planned dan well-prepared dalam bertindak. Gua ngga pernah memojokkan seorang pecandu dan alkoholik. Tapi kasusnya mengenai kenaikan BBM, bukan kenaikan harga JAMU!

Pemerintah terhujat. Masyarakat melarat. Apa yang dapat kita Bantu teman-teman?

Marilah kita sama-sama memperhatikan hak orang lain, pemerintah pun manusia. Mereka bersusah payah mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bagi Negara. Bukan bersikap acuh tak acuh. Pemerintah akan sangat menghargai setiap insan yang ikut membantu mereka dalam mengembalikan Indonesia ke dalam kedamaian. Akankah kita berdiam diri? Bersifat acuh, separatis, tidak mengeluarkan suara (apalagi tindakan) untuk bangsa.

Hujatan tersebut amatlah sebuah kritik yang konstruktif. Bagi pemerintah, bagi siapa saja yang merasa dirinya bertanggung jawab akan tugasnya, bagi siapa saja yang menyandang darah anak Indonesia. Hujatan tersebut diperuntukkan untuk kita semua. Termasuk para demonstran, kepolisian, siapa saja. Maka buatlah diri kita dan orang lain di sekitar kita merasa nyaman menjalani hidup dalam suatu daerah dan Negara.

Sesunggungguhnya belajarlah. Perdalam ilmu yang kita sadari kita sanggup untuk menempuhnya. Didiklah orang-orang di sekitar kita untuk menjadi insan yang peduli terhadap lingkungannya.

BBM tentu akan naik lagi, pasti. Yang sekarang premium 6000 rupiah/liter, ntar akan naik lagi. Jadi, selamatkan diri lo sendiri, selamatkan bangsa dari haus dan rakusnya manusia-manusia yang tiada henti meraup habis kekayaan Indonesia. Bukan meminta harga turun saja. Namun persiapkan dari sekarang. Teguhkan dan kuatkan hati, walau dimana-mana harga mahal. Tetap giat bekerja dan jangan lakukan kerusakan terhadap bumi kita satu-satunya.

Sekali lagi pemerintah hanyalah alat untuk melaksanakan peraturan dalam mencapai kedamaian Negara ini, kita sebagai individulah penentu masa depan Negara dan hidup kita sendiri.

It is not only for what we do that we are held responsible, but also for what we do not do. Jean Baptiste Poquelin Moliere