Tentang Politik Kita

by M. A

Berbicara tentang politik pemerintahan di Indonesia, kita kerap kali menemukan berbagai ungkapan-ungkapan bullshit yang dituturkan oleh segenap kelompok maupun oknum di hadapan media TV atau Koran. Setiap kelompok mencari kebenaran bagi kelompoknya masing-masing.

Apakah budaya dan etika sudah tidak ada lagi di meja politik orang Indonesia? Terkadang, ketika pemerintah yang berwenang sedang berpidato atau memusyawarahkan sesuatu dihadapan Televisi kepada rakyatnya, datanglah oknum lain yang meyuarakan ketidaksetujuan. Banyak sekali debat, banyak sekali permintaan yang ditanyakan oleh aktor-aktor politik Indonesia tanpa memberikan ‘secuil’ pun berkah untuk rakyat.

Apakah di era ketika saat berumur 40tahun nanti saya akan mengikuti ‘bajingan-bajingan’ tengik itu? Apakah hal itu dikarenakan oleh tidak pandainya aktor politik Indonesia zaman sekarang dibidangnya? Kenapa yang kebanyakan menuntut kebanyakan pemerintah? Bukan rakyat?

Setidaknya pada saat PEMILU 2009 lalu setiap capres dan cawapres melontarkan berbagai janji-janji dan betapa concern-nya mereka dengan nasib Pak Tani/Bu Tani, Pak Guru/Bu Guru. Ketika PEMILU telah dilaksanakan, kelompok yang tak terpilih lalu mengajukan usul **perhitungan suara ulang**. Setidaknya saya tau dari yang sudah saya lihat akan gejala bertingkah layaknya anak-anak di masa tua. Saya pikir, politikus kita bergejala sama.

Semakin tua semakin tidak jelas tujuannya. Hanya harta, hanya tahta, hanya wanita.

Gak Jelas Mo Kemana..

Apakah tidak sebaiknya “Anda-anda” yang duduk di bangku pemerintahan mengadu ilmu dulu dengan expertise-expertise politik di Negara lain yang sudah memegang ideologi demokrasi sejak lama?

Media Televisi Indonesia-pun terkadang berjalan ‘serampangan’. Mereka hendak memberitakan segala kalimat yang terlontar dari mulut setiap politikus yang ‘cuap-cuap’ beradu ‘moncong’. POLITIKUS APA SELEBRITI???

Media Televisi sudah tidak dapat menyimpulkan lagi apa yang terjadi di Negara dan apa yang sebaiknya Negara lakukan demi kebaikan bersama. Malah bekerja untuk menaikan Rating acara demi mendapatkan banyak pemirsa dengan cara mempertemukan kubu-kubu yang bertolak belakang. Tugas-tugas aktor politik dan media sudah tidak jelas. Mau jadi apa bangsa kita dalam 5 tahun kedepan? Saya tak sanggup lagi melihat Pemilu 2014 mendatang.

Untung saya Golput kemarin. Saya tau saya tidak puas dengan ketiga capres. Sehingga pesta euphoria kebangsaan tidak saya hadiri kemarin. Saya kira, politik bukan cara yang tepat untuk mencapai kesatuan bangsa dan demokrasi “belum menjadi” media yang PALING tepat. Kita harus memiliki presiden yang berjiwa sederhana dan berwibawa, tau apa tujuannya menduduki kursi pemerintahan. Jarang sekali saya menemukan hal itu.

Advertisements