Lamunan 11 Malam

by M. A

hati ini terlalu gelisah,
resah dibawa lamunan yang bersemayam dan tenggelam jauh di tempat kita bersandar dahulu

ingin sekali aku merengkuh,
berteriak dan menangis sekeras-kerasnya untuk sebuah tangisan nyata,
bahwa kau masih ada di sana untukku

kutahu sebuah ketakmungkinan ayal hadir dengan pesimisme-pesimisme sampah yang dulu pernah menjadi sebuah kehidupan bagi kita untuk tertawa, menangis dan berbahagia

disetiap batas imajinasiku,
kentara berdiri dua pintu
pintu yang dulu, penuh memori kita
dan pintu yang sekarang, penuh pinta untuk menjadikannya suatu kenyataan

namun ada satu pintu lagi,
dimana seorang mengawasi setiap pikiranku dari jauh,
melihat tingkah laku serta gerak-gerikku yang membuatku selalu waspada

aku tahu, aku diamkan saja,
karena ku tak tahan rasa ini,
di mimpi, di nyata

jam 11 malam dunia terasa pahit,
ku terselimuti oleh khayalan-khayalan rona manusia yang kan ku temui diesok harinya
ku tertiup, kadang terlalu jauh

dan aku merasa aku harus kembali

hai setengah dari diriku,
kuharap kamu memikirkanku di sana
di do’a tidurmu
di landasan tidurmu
di tawa dan sedihmu

karena ku memikirkanmu
yang saat ini perlu ku beri tahu

Advertisements