Pengguna Motor dan Ekualitas

by M. A

Gua Kembali merespon keadaan yang mengenaskan dalam penggunaan jalan umum di Indonesia. Namun saat ini gua memfokuskan dalam kelalaian para pengguna sepeda motor. Setiap hari gua menggunakan kendaraan umum maupun mobil pribadi ketika bepergian. Dari dalam mobil gua dapat melihat begitu banyaknya sepeda motor yang berlalu-lalang di jalan raya. Terkadang mereka tidak menggunakan pelindung dalam berkendara. Harga helm yang sangat terjangkau tetap tidak menjadi pilihan perlindungan mereka. Selain itu, sering kali para pengguna sepeda motor tersebut melewati trotoar yang sudah dibuat pemerintah untuk para pejalan kaki.

Lucunya, ketika gua menggunakan trotoar tersebut pada suatu siang, dalam keadaan matahari sedang terik dan panas, sebuah motor melaju dari arah belakang gua mengklakson dan berkata “Maaf Mbak, minggir sebentar.” Karena sanggup menahan gejolak emosi gua kasih lewat, lalu setelah pengguna sepeda motor tersebut lewat, guapun melihat rumput-rumput yang ada di trotoar tersebut ikut tergilas. Ketika motor itu terus melaju, ia melihat ada genangan air di satu sisi, tidak berapa lama kemudian, ia tidak sengaja menginjak genangan air tersebut dan mengenai bajunya sendiri. Kalau anda berada di keadaan tersebut, apakah yang akan anda katakan?

Apakah: 1.( “Mampus” )?

2. (“Makannya Bang,… mampuslah!”)

Gua tidak memilih ke-dua-nya. Gua mendatangi abang-abang itu dan berkata “Bang, kan itu di sebelah jalan raya, kenapa ngga disitu jalannya?”. Si abang membalas, “Macet Neng, apa gunanya saya kredit motor?” SSETTT DDDAHH.

Emang sih, kredit motor baru sekarang hanya bermodal Rp50.000,- saja sudah bisa pamer dengan teman-teman dan tetangga. Namun seharusnya ketika menggunakan kendaraan tersebut, bersikaplah penuh tanggung jawab seperti bertanggung jawab dengan keluarga anda sendiri. Uang yang dikeluarkan pemerintah demi kenyamanan pengguna jalan tersebut sudah di acuhkan oleh para pengguna sepeda motor yang kurang tanggung jawab tersebut. Ketika anda berteriak “Penjarakan Koruptor!”, ada orang di belakang anda yang berteriak “Penjarakan orang ini!” (sambil menunjuk ke arah anda) karena sikap anda yang kurang bertanggung jawab sama halnya dengan para koruptor tersebut.

Itu adalah salah satu fenomena yang gua lihat ketika berjalan kaki. Beda halnya pada saat gua melihatnya dari belakang stir mobil. Ketika gua mencoba untuk mengantri di belakang mobil-mobil yang lain di dalam suatu kemacetan di tanah air, ada puluhan orang di samping mobil gua sedang mencoba untuk cepat keluar dari keadaan hellish tersebut. Namun caranya berbeda, dengan menyalip ke kiri dan ke kanan, serta menyenggol mobil gua yang mudah cacat dengan goresan stang sepeda motor. Hahaha, hal kedua yang selalu gua pertanyakan adalah alasan pengguna motor yang terbirit-birit itu. Gua juga mempunyai alasan yang sama persis dengan mereka. “Gua lagi buru-buru juga”. Namun bukan itu yang gua katakan, yaitu, “Woy, Mas! Minggir lo, mobil gua cacat!”

Pada saat itu gua nyari tempat yang kosong untuk argue. “Maaf Mbak.” Lalu orang-orang ngeliatin. Sebetulnya ya, gua ngga butuh minta apa-apa dari dia termasuk maaf. Gua pengen bikin dia tambah lama menuju tempat tujuannya. “Jadi mobil gua cacat sekarang, lo mau ganti apa motor lo gua cacatin juga?”. Di sinilah gua pengen memberi amanat sama dia, “Kalo Lo lebih santai, gua uda sampe dari tadi.” Emang sih, kurang klimaks gimana gitu, tapi gua yakin dia meresap kata-kata gua di otaknya.

Sebagai pengguna motor anda dapat memilih untuk menjadi *bertanggung jawab dan *tidak bertanggung jawab. Ketika anda memilih *tidak bertanggung jawab, maka ribuan orang di Jakarta dan sekitarnya yang sehari-harinya melewati keadaan macet tersebut sedang menyumpah-nyumpah nama anda dan keluarga anda. Cara lain yang paling adil adalah, menjadi *lebih bertanggung jawab. Yaitu ketika anda tidak sengaja menggores cat mobil di sebelah anda, biarkan si pemilik mobil melakukan hal yang sama. Gua percaya kalau orang Indonesia punya nafsu balas dendam yang sangat besar. Tapi tidak, jadilah pesepeda motor yang *bertanggung jawab saja. Berjalanlah disebelah kiri agar lebih aman dan jauh dari mobil-mobil yang lewat, siapa tahu mobil dibelakang anda disetiri oleh anak remaja yang baru belajar dan kurang aware, alhasil lampu motor bagian belakang anda pecah.

Setiap orang yang mempunyai rasionalitas tinggi harus menyimpulkan bahwa hak setiap manusia semua sama. Bukan berarti jika anda menggunakan kendaraan yang lebih kecil, yaitu sepeda motor, bebas melakukan salipan-salipan liar tersebut. Pengguna mobilpun punya hak yang sama, yaitu membelah kepala siapa saja yang tidak berhati-hati di jalan raya. Dengan Ekualitas tersebut, siapapun berhak atas kenyamanan dan keamanan.

The Law, in its majestic equality, forbids the rich, as well as the poor, to sleep under the bridges, to beg in the streets, and to drive your motorbike irresponsibly.

Advertisements