Anak Muda Sering Berubah

by M. A

Liburan semester kali ini gua menemukan diri gua sadar bahwa banyak sekali perubahan yang ada di otak gua sehari-hari. Perubahan yang gua maksud bukan merupakan perubahan fisik, namun perubahan pikiran. Ntah apa yang gua pikirkan sehingga banyak sekali frekuensi pikiran ini berubah dari obsesi A ke obsesi-obsesi lainnya. Gua sadari ternyata itu adalah sebuah fase yang dialami oleh anak-anak muda. Anak muda yang sedang merasakan rasa-rasa kehidupan. Mereka yang sudah merasakan bagaimana rasa manis, pahit, gembira, bergejolak akan cinta, jatuh, terpukul, numb, tolol, heartbroken, dan lain lain dalam sebuah kehidupan.

Sebuah pikiran manusia yang masih perawan dan belum tersentuh oleh berbagai ikatan dan berbagai pertanggungjawaban. Sebuah pikiran yang masih berlari kesana kemari, “semau jidat”, tidak peduli apa kata orang. Sebuah pikiran dalam menjajaki jiwa yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa ketika muda dan kita tidak mempunyai pengalaman yang memberikan arti perubahan di dalam hidup kita, maka berarti kita belum belajar apa itu sebuah hidup. Karena perubahan-perubahan itulah yang membuat kita dapat menjajaki dan mensyukuri keadaan hidup kita yang sekarang.

Well, disini gua udah bukan dikategorikan sebagai teenager lagi. Tahun depan gua uda berkepala dua. Uda ngga cocok lagi nulis diary tentang bagaimana senangnya dicium pacar atau pengalaman nonton bioskop dengan pacar. Hal itu bukan lagi menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan menjadikannya sebuah fantasi akan pacaran. Tapi lebih merupakan sebuah quality time untuk menyaksikan sebuah film dan menikmatinya bersama pasangan.

Kembali pada argumen anak muda sering berubah, ya,.. Gua melihatnya dari diri seorang sahabat dekat maupun teman-teman. Setiap bertemu dan menghabiskan waktu bersama, terlontarlah berbagai macam keinginan dan mimpi-mimpi seorang teman. Contohnya, “Gua pengen kamera Lomo deh..”, esoknya ia akan berkata, “Gua besok mau nabung ah buat beli Ipod”. Ya, seringnya kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut teman-teman maupun diri gua sendiri, membuat gua gusar dan menjadikan gua wondering. Betapa seringnya kita berkeinginan dalam seminggu. Apakah itu berarti anak-anak usia muda tidak mensyukuri apa yang telah mereka punya?

Anak muda 20tahunan punya sesuatu yang membedakannya dengan orang-orang yang berusia di atasnya maupun anak remaja. Anak remaja cenderung menyadari hari-hari mereka adalah tentang gebetan dan bergaul. Namun para orang muda 20tahunan “yang sudah matang” menyadari hari-hari mereka adalah tentang bermimpi dan bagaimana cara membuat mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan. They are ambitious and full of passion.

Itulah yang membutakan anak-anak usia muda. Yang tidak jarang dilihat sebagai orang yang hanya berurusan dengan materi dan kesenangan, di tambah lagi kebutuhan akan seks. Perbedaan antara jiwa anak muda pria dan wanita juga bisa terlihat. Pria usia 20an mulai mendapati dirinya sedang dalam persiapan mencari kekayaan materi, memiliki barang-barang berharga mahal, rumah, mobil, pekerjaan yang mapan, mencari kekasih idaman dan mendapatkan seks yang sempurna. Sedangkan untuk wanita, masih dengan bermimpi menjadi seorang istri, career woman, menjadi seorang ibu, bersanding dengan seorang suami yang mapan, mendirikan butik atau restaurant dan traveling ke berbagai belahan dunia. Semua wanita selalu bermimpi akan traveling.

Berbagai macam keinginan, maka terdapat pula berbagai macam perubahan. Dari mimpi yang satu ke mimpi yang lainnya, membuat anak-anak usia muda dilihat sebagai sosok yang sangat dinamis, energetic, seorang yang masih penuh semangat, bebas, namun masih mempunyai jiwa yang cukup rapuh dalam menghadapi berbagai permasalahan. Peran keluarga dan orang tua kadang tidak mampu dalam membendung keinginan-keinginan dan pilihan-pilihan anak-anaknya tersebut, makan rentan pada usia ini terjadi sebuah perselisihan keluarga. Menekankan pada hal pilihan hidup mereka, apa yang mereka cari dan apa yang mereka kehendaki.dalam hidup ini.

Namun selain perubahan negatif yang mempengaruhi hubungan keluarga, terdapat pula berbagai perubahan-perubahan positif. Menjadi seorang yang dinamis dan enerjik menjadikannya sebagai jiwa-jiwa yang tak pernah menyerah. Mereka selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang mereka impi-impikan. Selain itu, sensitivitas akan lingkungan sangat besar, jadi tak lain anak muda lebih sering ikut andil dalam wacana-wacana pelestarian lingkungan, seperti yang sedang marak sekarang ini. Di mana tak lain para orang-orang usia 30tahun ke atas sedang memikirkan mencari uang dan berurusan dengan segala pertangungjawaban yang dimilikinya sehingga tidak sempat memikirkan masalah lingkungan.

Yang terakhir yang dapat gua katakan, menjadi seorang anak muda itu gampang-gampang susah. Di sisi lain gua bersyukur sekali karena dapat merasakan nikmat hidup yang tiada tara dan sangat bergairah untuk menempuh hidup di masa yang akan datang. Namun saat ini gua juga masih berpikir betapa borosnya hidup di usia ini, banyak menginginkan berbagai macam ini-itu, tidak berhenti-berhenti. Frekuensi perubahan-perubahan obsesi pada masa muda memang seharusnya dilewati, karena dari situlah kita menemukan jati diri siapa kita di masa mendatang. Gua tidak menawarkan kiat menjadi anak muda yang baik, namun gua berpesan, lewatilah masa muda ini apa adanya, dengan adanya berbagai masalah yang sedang menghadang di depan mata, sesungguhnya itu membuat waktu menjadi lebih berharga.

In the lexicon of youth, which fate reserves
For a bright manhood, there is no such word
As “fail.” – Edward George Earl Bulwer-Lytton

Advertisements