Luangkan waktu di Jogjakarta

by M. A

Minggu lalu gua baru aja balik dari liburan bersama sekumpulan teman ke Jogjakarta. Tempat yang terkenal dengan batik, gudeg, dan nuansa Keratonnya. Gua bepergian dengan tiga orang teman menggunakan kereta. Liburan yang direncanakan kurang lebih dua bulan ini, berlangsung sangat menyenangkan. Gua melakukan backpacking dan berbudget pas-pasan alias tidak lebih sama sekali.

Gua stay di sebuah losmen di daerah Jl. Sosrowijayan, Malioboro bernama Losmen Lucy, yang pemiliknya bernama Ibu Lucy. Losmen yang cukup friendly, bersih, kamar yang cukup luas dan sangat terjangkau dengan harga Rp 60.000 per malam. Banyak turis asing yang menginap di sana dan stay berbulan-bulan. Informasi gua dapatkan dari Internet dan buku Lonely Planet to Indonesia. (Jl. Sosrowijayan merupakan jalan yang terkenal akan hotel-hotel murahnya.)

Kematangan rencana dan lengkapnya informasi tentang Jogja tersebut memberikan berbagai macam kentungan buat gua dan teman-teman. Di sini, gua akan berbagi tips suapaya lo dapat menikmati liburan yang menyenangkan tanpa budget yang tinggi untuk Jogjakarta.

Pertama-tama, gua menggunakan kereta Fajar Utama jurusan Stasiun Tugu, Jogjakarta dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta jam 6.20 pagi. Tiket seharga Rp 100.000.- Harga tersebut digolongkan dengan kelas Bisnis non-AC. Kalo lo mau memilih kereta Eksekutif yang AC, lo cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 220.000,-. Tapi karena kemarin gua ngga perlu naik yang AC, gua dan teman-teman memutuskan untuk membeli tiket kereta Rp 100.000,-

Di perjalanan menuju Jogjakarta, gua melihat pemandangan-pemandangan alam pedesaan yang masih alami dan asri. Terutama di daerah Prupuk. Pemandangan alam yang menakjubkan, terdapat gunung-gunung, sawah dan sungai di kejauhan. Pas buat lo yang haus akan suasana pedesaan, karena muak melihat asap kendaraan di perkotaan. Perjalanan memakan waktu selama delapan jam. Kalo lo bercanda dengan teman-teman, tentu waktu yang lama tersebut tidak akan terasa.

Setelah sampai St. Tugu, gua langsung ke losmen di Jl. Sosrowijayan. Tinggal jalan aja uda sampe. Lo ga perlu menghiraukan tukang becak yang menawari ini itu. Karena sangat dekat sekali (lo keluar lewat bagian belakang stasiun). Setelah itu gua berjalan-jalan menghabiskan malam di jalan Malioboro yang hiruk pikuk akan pedagang kerajinan kayu dan batik. Harga-harga barang yang terjangkau dan unik sangat menggugah selera lo yang senang belanja. (Jangan bawa baju banyak-banyak, sediakan tas kosong untuk bawa oleh-oleh pas pulang.)

Esok harinya, gua dan teman-teman berencana untuk pergi ke pantai yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidulnya, yaitu Pantai Parang Tritis. Kalo lo ke Jogja dan mo kesana, lo ngga perlu bingung. Cukup dengan naik Busway jurusan Terminal Giwangan dengan harga Rp 3000,- saja, lalu dilanjutkan dengan bus-bus kecil yang pergi ke Pantai tersebut. Lo tanya aja jurusan Parang Tritis. Perjalanan ke sana memakan waktu 30-45 menit saja. Tergantung “ngetem”nya si abang. Ongkos sekali jalan Rp 10.000,- dan langsung turun di depan pantainya. Sangat mudah.

Untuk pulang ke terminal Giwangan lagi, bus hanya terdapat sampai batas jam 17.15 saja. Lebih dari itu, lo ngga bisa pulang naik bis. Karena jam 6 angkutan umum di Jogja sudah tidak beroperasi lagi.

Parang Tritis merupakan pantai yang sangat indah, di sebelah kiri pantai tersbut ada bukit besar yang mengelilingi pantainya.

Setelah cape main di pantai, kita semua pulang dan makan di daerah Maliboro. Di sana terdapat makanan murah dan bermacam-macam. Tetapi lo harus jeli dalam memilih tempat makannya. Karena tempat makanan lesehan ada yang mahal dan ada yang murah. Lo bisa makan nasi gudeg ato pecel yang lesehan. Ato makan sate lontong di depan Benteng Vredeburg dengan harga Rp 4000,-. Pertamanya sih gua agak ragu karena takut makanan tersebut stock lama, tapi ternyata ngga dan lama-lama gua keenakan lalu nambah. Muahhahaha. Berat badan langsung naik selama di Jogja.

Keesokan harinya, gua dan teman-teman melanjutkan perjalan ke Candi Borobudur. Sebuah candi Budhist yang termasuk 7 keajaiban dunia. Transportasi yang gua pakai adalah busway ke terminal Giwangan dan lanjut dengan bus-bus yang ke Borobudur. Seperti Cemara Tunggal dll. Ongkos perjalanan dari terminal Giwangan hanya Rp 12.000,-

Gua mengelilingi candi yang sangat megah tersebut. Memang unik dan besar sekali. Serta konon katanya, kalo lo ke atas, dan megang patung buddha, lalu berdo’a, maka keinginan lo terkabul. Gua si ngga percaya, tapi toh gua lakuin juga. Hehehe..

Hari terakhir gua ke Keraton. Sebuah istana kesultanan Jogjakarta yang terkenal akan Sultan Hamengkubuwono ke-9 nya. Sampe sekarang sih masi terkenal, tp kayanya sultan yang happening banget tuh, Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9. yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan Menteri HANKAM kita dulu, yaitu Bpk. Dorojatun.

Di Keraton, masih banyak terdapat abdi dalam Sri Sultan. Mereka menggunakan pakaian adat khas Jogja plus blangkonnya. Masuk ke Keraton seharga Rp 5000,-. Kalo turis asing Rp 12.500 izin foto plus Rp 1000,- murah lah.

Yang pengen gua kasi tau, ketika lo menikmati keindahan Jogjakarta, lo jangan mau di tawarin tukang becak gitu aja. Mereka menawarkan harga dorong becak cukup miring. Yaitu berkisar Rp 3000-5000,- saja, lo bisa kemana-mana. Emang sih, lo dibawa mengitari Jogja. Tapi lo akan dibawa kepertokon-pertokoan yang belum tentu lo mau. Contohnya nih, “Mbak, becak Mbak, ke bakpia, dagadu Cuma Rp 3000, Mbak”. Kalo lo emang maunya beli bakpia dan Dagadu ya oke. Tapi kalo lo ngga mau, jadinya bete. Mang belanja Cuma di bakpia dan Dagadu aja. Kan ngga juga. Ehhehe..

Lagian ya, gua pengen bilangin, kaos-kaos jenaka bermerk Dagadu yang asli itu cuma ada di Malioboro Mall. Bukan di Gang-gang ato jalan-jalan lainnya. Itu palsu semua. Tukang becak dan konco-konconya aja yang bilang asli padahal palsu. Terus kalo lo mo bakpia, lo beli bakpia yang bermerk Bakpia “25”, “75” dan lain-lain. Karena selain itu, rasa bakpianya kurang legit. Bahkan ada yang di plesetin Bakpia “52” dan Bakpia “57”. Angkanya doang yang dibalik, namun rasanya biasa aja.

Kalo backpacking lo harus udah siap dengan uang yang akan lo gunakan untuk belanja dan makan. Serta antisipasi jika kekurangan. Mendingan uang jangan di taro di dompet semua. Tapi yang perlu di kantong aja. Terus, taro di ATM setengahnya. Biar kalo kecopetan uang, masih bisa ngambil ATM. Kartu ATM juga jangan di dompet.

Perjalanan dengan budget sederhana seperti ini sangat sering dibilang kere or something. Padahal justru lo dapat mengelillingi suatu daerah yang belom pernah lo kenal dengan maksimal dengan mencari informasi-informasi yang tepat. Tips gua sih jangan males nelfon Costumer Service TELKOM 108. karena berguna banget untuk nanya apa aja. Kalo lo mau nanya Costumer Service PT. KA lo cukup pijit nomor 021-6916060 untuk nanya harga tiket dan jurusan. Khusus Jakarta. Kalo daerah lain, telfon aja 108 dan tanya call center PT. KA-nya.

Jogjakarta merupakan kota yang pas sebagai kota tujuan lo untuk berbackpacking. Kota tersebut menjadi tempat debut gua berjalan-jalan sederhana tanpa orangtua. Hahaha…. Dan gua jadi ingin melakukannya lagi-lagi dan lagi ke kota yang lain, bahkan pulau-pulau yang belum tersentuh turis. (muahahahha ngayal).

Kebudayaan Jawa yang lembut dan sopan, kultur yang menarik dengan berbagai macam kerajinan tangannya. Dan kekhasan kekaisaran Keratonnya yang di puji oleh berbagai Negara di dunia merupakan daya tarik kota Jogja. Itulah Jogjakarta. Lo harus kesana.

berikut adalah beberapa foto-foto yang gua ambil di jogja:

Pictures by Meutia Ananda

1. Stasiun Tugu, Jogjakarta

2. Pasar Beringharjo, Malioboro (grosir batik)

3. Pantai Parang Tritis

4. Candi Borobudur

5. Bank Indonesia, Malioboro

6. Railway to Jogja

Advertisements