Mengkritisi lalu lintas kota Jakarta

by M. A

Warga kota Jakarta mempunyai mobilitas berkendara yang cukup tinggi. Didasarkan oleh adanya berbagai kebutuhan yang mengharuskan mereka untuk pergi “kesana-kemari” demi menyelesaikan suatu permasalahan atau kegiatan. Gua termasuk salah satu pengecap rasa pahit dalam berkendara atau bertransportasi di Jakarta. Sebagai warga dari kota ini, gua merasakan ketidakpuasan pada saat melaksanakan kegiatan yang mengharuskan gua untuk keluar. Hal tersebut bermula pada saat gua ‘menyelam’ dalam lalu lintasnya.

Ketika libur, gua dapat kembali ke rumah, kembali menggunakan mobil pribadi untuk bepergian. Karena pada saat gua kuliah, gua menggunakan transportasi umum untuk pergi kemana saja (gua berkuliah di kota lain). Pada saat terjadi kenaikan harga BBM, gua uda mulai berantisipasi akan akibat-akibat yang disebabkan oleh hal tersebut. Yaitu, harga premium yang menjadi sangat mahal. Maka pada saat itu gua memutuskan untuk menggunakan menggunakan transportasi umum demi menghemat dan efficiency.

Tapi Ya Tuhan, mengapa fenomena bertransportasi umum di kota ini sedemikian hancur, sih?! Ketika gua menunggu berhari-hari jawaban Tuhan, ternyata ngga ada jawaban muahahaha. Gua sadar ini adalah salah satu permasalahan akut Negara kita. Bidang yang telah terbodohi oleh karena program-program industrilisasi.

Gua paling ngga suka naik angkot di Jakarta. Akses dari rumah gua (Ciputat) ke daerah-daerah yang mostly gua tuju (Jakarta dan sekitarnya), sangat jauh untuk dilalui dan ber’capek-capek’ di dalam angkot. Itu adalah pilihan akhir gua dalam berkendara. Karena gua lebih prefer kereta, bus, bajaj, ojek, lalu becak. Angkot bener-bener pilihan terkahir.

Hal yang sangat perlu dikritisi adalah:

  • Mengapa terkadang gua masih menemukan angkot yang kurang menyediakan kenyamanan? Hal itu dapat berupa kenyamanan waktu, dan keramahan sang supir. Terkadang “ngetem” angkotnya sangat lama, sehingga gua yang buru-buru harus selalu merasa gelisah takut terlambat. Selain itu, supir-supir yang tidak beretika, ngomong kasar dengan penumpang (sewa) atau melecehkannya. Betapa dirugikan kita semua. Rugi tenaga, uang dan batin. Gua pernah melihat nenek-nenek dikasarin. Gua rasa supir-supir angkot tersebut perlu diberikan pendidikan dalam menjalani profesionalisme pekerjaannya.

Kegiatan ‘mengetem’ Itu merupakan salah satu penyebab kemacetan. Merupakan pilihan terakhir bagi gua ketika tidak mempunyai cukup uang untuk naik taksi atau ojek, terpaksa banget harus naik angkot. Kalo deket mending jalan.

Masalah transportasi yang satu itu perlu disimak oleh pemerintah. Dan birokrat-birokrat yang berurusan dengan bagian perhubungan. Kenyamanan dalam “berangkot” di kota Jakarta masih dalam taraf ‘nol’ bagi gua.

Setelah mengkritisi permasalahan angkot, masih ada hal yang membuat hati miris dalam berlalu-lintas di Jakarta. Yaitu, ‘macet’. Demi Tuhan, macet merupakan penghalang yang sangat mempengaruhi kegiatan berlalu-lintas kita. Sudah banyak cercaan dan makian pengguna jalan terhadap hal ini. Terkadang rasanya kita sampai ‘capek’ mengutuk hal kemacetan tersebut. Setiap gua bertualang ke negri lain, ngga ada yang lebih parah dari Jakarta dalam kemacetan. Kita nomor satu. Untuk on-time dalam mengerjakan tugas saja, kita harus terus menlakukan antisipasi dalam hal ini dengan cara pergi lebih awal. Pada saat-saat seperti ini, satu-satunya hero gua adalah Kereta Listrik.

Ingin sekali membuat ajakan persuasif kepada masyarakat untuk lebih menggunakan kereta dalam melakukan kegiatannya. Gua mulai mengenal kereta pada saat kelas 2 SMA. Saat itu, gua masih takut sama isu-isu banyak copet dan pemalakan anak sekolah dsb. Sekarang gua uda jadi pengguna kereta selama 3 tahun. Dan kendaraan listrik ini adalah pahlawan sepanjang masa gua. Ketika melihat fenomena ‘kemacetan’ di luar jendela kereta, gua hanya tertawa terkekeh-kekeh. Mereka harus ngantri, dan mengontrol gas, rem, kopling yang sangat melelahkan selama berjam-jam. Sedangkan gua “WOOOEEEZZZ” langsung tancap, dan mencapai tempat tujuan hanya dalam hitungan menit. Tidak pernah sampai sejam. Dari Stasiun Sudimara – Stasiun Kota dan sekitarnya. Lalu gua akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Trans Jakarta, bajaj, atau ojek. Tarifnya pun sangat-sangat murah. Pulang pergi jarak jauh tidak pernah lebih dari Rp 25.000,- terkadang hanya Rp 10.000,- jika jarak bepergian hanya melewati 2 stasiun.

Tetapi masih ada hal yang masih gua sayangkan dalam menggunakan kereta.

  • Jadwal kereta selalu molor. Alias selalu telat. Bisa sampai 20 menit. PT.KA telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam pengoperasian jalur kereta tersebut, namun pelaksana kebijakan tersebut masih kurang tegas. Jadwal kereta otomatis membuat keharusan terhadap para pengguna jasa untuk berdisiplin. Karena jika kita ‘molor-molor’ atau tidak disiplin, maka kita akan ketinggalan kereta. Tetapi keretanya sendiri yang suka ‘molor-molor’. Ntah apa yang mesin listrik itu tunggu. Tukang lemper kali.
  • Selain itu kebersihan di dalam kereta masih tidak memuaskan. Sebetulnya sih bukan salah keretanya ya, tapi penggunanya masih suka buang sampah sembarangan. Terutama masyarakat golongan bawah yang masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya sendiri. Tapi tidak sedikit kaum professional yang masih ‘budeg’ dengan larangan membuang sampah sembarangan tersebut. Perlu diberi ketegasan dan pengawasan, serta sanksinya.
  • Yang ketiga, para pengguna kereta masih ngga ‘santai’ dalam mengantri memasuki kereta. Takut ketinggalan kali ya. Tapi akibatnya setiap gua naik kereta, selalu berdesak-desakan. Kurang nyaman, walau dalam beberapa menit lagi gua sampai tujuan. Tetapi para pengguna perlu diperingati dan diberi pengarahan agar tidak berdesak-desakan.

Ketika gua menggunakan kereta, gua harus merasa melas sebentar ngeliat masyarakat yang masih banyak tidak peduli terhadap lingkungan. Tapi ya ngga apa-apa, toh gua bayar Cuma Rp 1500,- sampai Rp 6000,- , ngga rugi lah daripada beli bensinRp 6000,-/liter. Mending naik kereta, murah, cepat sampai, dan ngga merasakan macet.

Ketika membaca Koran, gua menemukan artikel tentang perlalu-lintasan kota Jakarta yang kurang efektif dan tidak efisien. Ternyata, pada saat bangsa Belanda menempatkan pemerintahan di Indonesia, Jakarta pernah menjadi kota yang mempunyai alat transportasi paling modern dan sempurna dari Negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Pada saat itu kita mempunyai Trem atau kereta listrik (seperti di Negara-negara Eropa). Dengan adanya Trem tersebut, kondisi perhubungan kota ini menjadi sangat lancar dan mudah. Karena kereta listrik tersebut dapat menjangkau ke daerah-daerah yang sempit bahkan sampai ke pelosok. Pada saat pemerintahan mantan Presiden Soeharto, penggunaan Trem tersebut dihentikan. Beliau mengutamakan akses lalu-lintas dengan memprioritaskan mobil-mobil pribadi. Padahal kalau Trem tersebut digunakan sekarang, kita melakukan penghematan yang luar biasa, karena dijalankan dengan tenaga air (hydroelectric plant). Ngga pake BBM.

Yah, sekarang sih pemerintah lagi ngurusin masalah FPI, kenaikan harga minyak berbagai tindak pidana korupsi yang ujungnya semakin menjadi-jadi karena tidak adanya ketegasan hukum, birokrat dan aparatur yang masih ‘lame’. Mana sempat memikirkan peningkatan kenyamanan dalam bidang transportasi.

Advertisements