Hujatan terhadap pemerintah Indonesia

by M. A

Gua menulis ini atas dasar pendapat gua pribadi, dan siapapun boleh tidak setuju dengan pendapat gua ini. Berita paling panas sekarang ini adalah “Kenaikan harga BBM”. Kita melihat dan mendengar banyaknya hujatan terhadap pemerintah atas kenaikan harga tersebut di TV atau media lainnya. Setiap hari, berbagai demonstrasi dan unjuk rasa dilakukan. Sekan-akan rakyat Indonesia telah dibutakan oleh peristiwa tersebut dan berbagai peristiwa yang terjadi dulu. Ini membuat hati gua miris. Terus terang gua agak kasian sama pemerintah (yah emang rasa sensitivitas gua tinggi, apalagi di daerah ‘itu’), bangsa ini udah mulai ngga menghargai nilai-nilai yang ditanam pada diri mereka. Maraknya pemilihan-pemilihan calon wakil daerah, yang menghabiskan ratusan juta demi suara rakyat (pake acara suap), kenapa kaga didemo dah?

Sebagai mahasiswa, gua punya prinsip sendiri. Mengekspresikan perasaan dan mengeluarkan aspirasi rakyat bisa dilakukan dengan cara yang nyaman, penuh damai, dan tertib. Ngga pakelah, acara bakar-bakaran keranda mayat demi memperlihatkan keadaan hati pemerintah yang ceritanya ‘udah mati’. Boleh sih. Gua ngga bersikap seolah-olah itu perbuatan terlarang. Well, I’m just not concerned in need doing those destructive demonstrations to show. Sebuah pendapat yang bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran setiap mahasiswa yang hendak melakukan unjuk rasa.

Dilain cara, kita bisa melakukannya dengan mengirimkan surat kepada pemerintah (harap kirim ke sub bagian dari birokrasi-birokrasi yang bersangkutan, jangan kirim ke SBY langsung, doi risih, dan alhasil surat lo disobek-sobek, dicabik-cabik, dijilat-jilat, diemut, dikulum, dll.), lalu dengan menulis di koran-koran, majalah-majalah, seperti Tajuk Rencana dan Opini Rakyat atau membuat sebuah blog di Internet.

Rasanya banyak sekali cara yang dapat kita lakukan. Masih ada cara yang lebih bersifat konstruktif. Seperti membuat seminar-seminar. Sehingga para pendengar dan peserta seminar terdoktrinasi untuk ikut memperbaiki kacaunya suasana Negara kita saat ini. Bahkan, lo bisa kirim SMS ke Koran-koran, atau media elektronik seperti Televisi dan Radio. It’s quite cool.

Kalo mau ke Gedung MPR dan DPR, jangan buat kemacetan lalu lintas. Kalo mau bikin acara unjuk rasa kaya gitu, panitia unjuk rasa kudu bertanggung jawab membuat acara berjalan aman dan jalanan lancar. Sifat para pengunjuk rasa yang terkadang acuh tak acuh dan hanya mementingkan keberhasilan misinya tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, membuat kualitas keharmonisan Negara ini menjadi berkurang. Sungguh –sungguh disayangkan.

Kita tidak dapat menempatkan kepentingan kelompok apalagi pribadi sebagai kepentingan utama yang harus segera dibereskan pemerintah. Sebagai mahasiswa, gua kurang setuju dnegan aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu, dijalankan oleh mahasiswa-mahasiswa UNAS, dan berakhir di sel kepolisian. Ternyata e ternyata, ketika dilakukan razia oleh polisi yang menjaga demo tersebut, ditemukan beberapa bom Molotov, ganja, alcohol, jamu buyung upik (oops salah) dan lain-lain. Mengapa mereka bertindak ceroboh seperti itu. Gua mendukung kegiatan unjuk rasa, seperti yang rakyat Indonesia (dua hari sekali) lakukan, namun gua akan menertawakan kecerobohan mereka dengan membawa barang-barang pribadi tersebut ke lapangan. Sungguh sebuah kehancuran. Apakah demonstrasi tersebut akan digubris oleh pemerintah? Tentunya Ya, pemerintah akan menggubris mengenai kenakalan mahasiswa yang berakibat mencoreng nama kampusnya sendiri. Bos, mahasiswa sekarang kudu well-planned dan well-prepared dalam bertindak. Gua ngga pernah memojokkan seorang pecandu dan alkoholik. Tapi kasusnya mengenai kenaikan BBM, bukan kenaikan harga JAMU!

Pemerintah terhujat. Masyarakat melarat. Apa yang dapat kita Bantu teman-teman?

Marilah kita sama-sama memperhatikan hak orang lain, pemerintah pun manusia. Mereka bersusah payah mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bagi Negara. Bukan bersikap acuh tak acuh. Pemerintah akan sangat menghargai setiap insan yang ikut membantu mereka dalam mengembalikan Indonesia ke dalam kedamaian. Akankah kita berdiam diri? Bersifat acuh, separatis, tidak mengeluarkan suara (apalagi tindakan) untuk bangsa.

Hujatan tersebut amatlah sebuah kritik yang konstruktif. Bagi pemerintah, bagi siapa saja yang merasa dirinya bertanggung jawab akan tugasnya, bagi siapa saja yang menyandang darah anak Indonesia. Hujatan tersebut diperuntukkan untuk kita semua. Termasuk para demonstran, kepolisian, siapa saja. Maka buatlah diri kita dan orang lain di sekitar kita merasa nyaman menjalani hidup dalam suatu daerah dan Negara.

Sesunggungguhnya belajarlah. Perdalam ilmu yang kita sadari kita sanggup untuk menempuhnya. Didiklah orang-orang di sekitar kita untuk menjadi insan yang peduli terhadap lingkungannya.

BBM tentu akan naik lagi, pasti. Yang sekarang premium 6000 rupiah/liter, ntar akan naik lagi. Jadi, selamatkan diri lo sendiri, selamatkan bangsa dari haus dan rakusnya manusia-manusia yang tiada henti meraup habis kekayaan Indonesia. Bukan meminta harga turun saja. Namun persiapkan dari sekarang. Teguhkan dan kuatkan hati, walau dimana-mana harga mahal. Tetap giat bekerja dan jangan lakukan kerusakan terhadap bumi kita satu-satunya.

Sekali lagi pemerintah hanyalah alat untuk melaksanakan peraturan dalam mencapai kedamaian Negara ini, kita sebagai individulah penentu masa depan Negara dan hidup kita sendiri.

It is not only for what we do that we are held responsible, but also for what we do not do. Jean Baptiste Poquelin Moliere

Advertisements