Pacaran dilihat dari dua sisi

by M. A

Pacaran dapat menjadi suatu hal yang sangat tentative. Bisa menyenangkan. Bisa juga membosankan. Gua akan menjabarkan hal tersebut dari dua sisi. Yaitu dari sisi wanita dan dari sisi pria. Dilihat dari sisi wanita, pacaran di tahap pertama sangatlah menyenangkan, dapat dianggap sebagai masa-masa paling bahagia yang pernah dirasakan oleh mereka (walau memang tidak selalu begitu kejadiaannya, malah terkadang become newly-coupled itu membosankan bagi para wanita karena tidak dapat bertindak lebih jauh).

Bagi perempuan-perempuan remaja, pacaran merupakan sesuatu yang mereka impikan. Bahkan menajdi suatu alasan mengapa mereka memilih suatu institusi pendidikan A sebagai tempat belajar tingkat lanjut (yang dulu juga pernah gua alami di SMA). Ternyata di dalam institusi tesebut terdapat rumor bahwa cowoknya ganteng-ganteng. Sebagai perempuan, gua akan berkata “wajar”. Namun dari sisi laki-laki mereka hanya akan berkata “Irrasional”. Ya, begitulah fenomenanya.

Dari sisi laki-laki remaja, yang baru beranjak dewasa (baru nyoba nonton Blue Film atau nyoba-nyoba ciuman sama pacar), pacaran menjadi ajang untuk bereksplorasi fantasi-fantasi yang selama ini mereka bayangkan. Mencoba apa itu ciuman dan berbagai hal, merasa bangga mempunyai pacar, suatu ajang dimana mereka mengeluarkan sisi kelaki-lakian mereka. Belum serius sih, orientasinya masih beda. Bukan hubungan yang serius melangkah ke perkawinan. Laki-laki dalam umur tersebut (sebetulnya sih dalam berbagai umur) lebih banyak menerima tekanan emosi untuk bersikap sebagai LAKI-LAKI. Yaitu bertanggung jawab akan pacarnya, bersedia melakukan apa saja, pokoknya orientasinya untuk menyenangkan ceweknya deh. Ujungnya minta cium. Iya kan?

Wanita dan pria yang pacaran dalam umur 18 tahun ke atas, kadang sudah sampai ke hubungan yang berorientasi serius. Namun tidak semua, hanya beberapa pasangan saja yang berorientasi demikian. Pasangan yang sudah menjalankan hubungannya sejak lama. Kalo Newly-coupled, mungkin dulunya emang salah satu dari mereka selalu ketimpa sial (contohnya putus terus, ditolak terus, kasianlah), ato baru ketemu (bisa jadi putus lagi ataupun memang jodoh). Jadi mereka hanya ingin berpacaran kalo uda ketemu yang pas, yang cucook, yang grreeeenggg (muahahahahha). Barulah mereka meniti hubungan tersebut. Bisa berakhir di pelaminan, bisa berakhir di rumah sakit (karena pas putus perang banyak-banyakan makan cabe)..

Ketika hubungan yang berorientasi serius tersebut dijalankan oleh kedua partner, wanita terkadang akan merasa jenuh dengan pasangannya. Mungkin karena sudah kurang perhatian dan peduli (ikut tali kasih). Ataupun gayanya itu-itu aja Muahahahahah. But it’s true Gentlemen, bored would be a perfect reason that why sometimes women are hard to be bended (Emang mo dipatahin?) maksut gua di sini adalah ditaklukan.

Pada pria yang sedang menjalani hubungan berorientasi serius dalam umur 18 tahun ke atas tadi, mereka sedang Greeeng-grreennng-nya dengan pasangan. Mereka terkadang membuai pasangan dengan mimpi, “Saya akan membeli apartemen untuk kita tinggal nanti.” atau “Kita akan pelihara 2 buaya, 2 harimau, dan 2 buaya darat, Sayang.” Begitulah. Buaian-buaian mimpi tersebut menjadi dorongan bagi mereka untuk mencari uang lebih banyak, Cuma untuk satu alasan, yaitu ­membahagiakan pasangan, mendapat prestiges atau untuk nanti mendapatkan sekedar pujian atas pembuktian “kesejahteraan” yang dulu sudah pernah dijanjikan. Hal tersebut bisa jadi sebagai dasar mengapa kedua commited couple tersebut menikah dan hidup bersama dan berbahagia dan sejahtera bijaksana abdi terhadap tanah air dan bangsa. (muhahahah)..

Perbedaan pandangan dari segi wanita dengan pria adalah, wanita akan tetap terus menyayangi dan mencintai seorang pria walau dia sudah membosankan dengan gaya yang itu-itu saja (LLooohohohoo), maksut saya dengan pria yang sudah kurang rasa peduli, penuh kasih dan romantisme, serta kurang greng.. ya, cinta tersebut tidak padam, kecuali…..

Betul, kecuali si pria menyakiti hati mereka dengan berselingkuh, atau tidak mendengarkan aspirasi mereka lagi.

Yang kedua, perbedaan pandangan pria dengan wanita adalah, pria akan terus mencari uang, prestis, dan mendapatkan semua keinginannya di dalam hidup. Ada yang memang dedicated dengan kekasih, namun ada pula yang emang workaholic dan Cuma berjuang mendapatkan kekayaan sebagai goal dalam hidup. Mereka memang terkadang juga agak bosan dengan wanitanya. Terkadang kalo ada cewek lain yang seerrrr dan grreeengg, udah deh, terobati bosennya. Tapi itu selingkuh. Walaupun kategorinya ngga seberapa jauh. Biasanya, orang yang setelah melakukan perselingkuhan, akan bersifat sangat manis terhadap pasangannya. Lagi-lagi suatu fenomena yang membutuhkan decakan lidah. Huahauhauhuahuahuhhhaum.. ckk ckk..

Di luar kedua pandangan tentang pacaran atau menjalin sebuah hubungan tersebut, sesungguhnya terdapat sebuah cinta sejati. Cinta yang ngga bisa di Replaced. Ama siapa aja. Ngga nyaman. kadang kalo ilang cintanya, kita jadi ngga napsu untuk idup. Ngga makan, ngga boker, ngga ngupil, pokonya hal-hal yang bersifat sorgawi udah ilang deh. Kadang sampai mantan pasangannya itu meneriakan nama pasangannya di atas gunung kidul hanya untuk mengajak balik.. yah, begitulah fenomena ketiga. Sekarang lebih baik kita fokus, sama apa yang sedang kita kejar, berikan yang terbaik-baik-baik-nya untuk pasangan lo masing-masing, dedicate everything to them even your life. Bahagiakan kelurga, dapatkan mobil yang menarik dan wah, dan hemat bahan bakar, jangan buang sampah sembarangan, nyalakan air seperlunya, dan SAVE OUR FORREST! (LLOOOOOOHHH?!). maksut gua, SAVE OUR LOVE!

Setuju Mojang-mojang? Aa-Aa? Uda-uda, Uni-uni? Ncang-Ncing?

and last but not least,

There’s someone out there for everyone – even if you need a pickaxe, a compass, and night goggles to find them.

– L.A story Movie

See ya.

Advertisements