Fenomena Seks

by M. A

Seks merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Seks yang gua bahas di sini bukan seks yang berorientasi ke persoalan gender. Namun sebagai suatu kegiatan pemuasan kebutuhan biologis. Rata-rata, orang sudah mengetahui tentang seks itu sendiri pada saat menjelang pubertas. Selanjutnya mereka akan mengeksplorasi tentang apa itu seks, bagaimana terjadinya seks tersebut, bahkan mencari data-data bersifat visual (yang umumnya dilakukan oleh laki-laki) tapi ngga jarang juga dilakukan wanita.

Di era sekarang ini, kemudahan mendapatkan data-data tersebut sudah tidak dapat diragukan lagi. Kita bisa langsung search di berbagai search engine ataupun mendownload lewat download manger. Hal tersebut berlangsung terus-menerus sampai akhirnya computer kita meledak karena ngga muat lagi nyimpen data-data haram tersebut. Muahahahhahaha..

Ya, itulah fenomenanya. Indonesia adalah Negara majemuk yang mempunyai beragam suku bangsa, terdapat bermacam agama dan kepercayaan, namun tidak pernah menempatkan perbedaan pendirian atau pendapat di dalam urusan berserks tersebut.

Hmm..

Kalo gua kasi contoh, misalkan ada orang keturunan Jawa bercerita tentang kehidupan seks bersama istrinya, “Saya berhubungan suami istri dengan gaya A, sedangkan istri saya yang keturunan Batak tidak suka, dia yang orang Batak selalu suka gaya Z untuk berhubungan.”

Tidak ada hal-hal semacam itu. Mau batak, mau jawa, mau minang, mau sunda, gaya-gaya berhubungan tersebut sangat Universal.

Di dalam masyarakat kita ini, sudah banyak kejadian pemerkosaan. Hal yang sangat tidak etis untuk dilakukan dalam berhubungan. Karena melibatkan pemaksaan dan ketidakrelaan emosi untuk melayani partner seksnya. Itulah fenomena yang selalu dikecam oleh berbagai pihak di dalam masyarakat. Namun, gua suka mikir, kadang Si korban pemerkosaan nangis-nangis, menuntut si pemerkosa, tapi pemerkosanya bilang, “Kita melakukannya dengan asas suka sama suka kok, Pak”. Busseet…

Gaya apa lagi tuh “Suka sama suka” ?

Dari keturunan suku manakah gaya tersebut lahir?

Mungkin si pemerkosa ngarang-ngarang aja..

Mungkin juga si korban dikasi minum obat tidur biar ngigo. Eh, paginya nangis-nangis. Wuedan.

Saya hanya prihatin kepada pihak yang belum cukup umur untuk menjadi korban pemerkosaan. Karena masa depannya keruh akan suasana traumatis yang pernah ia rasakan. Jadi, setiap kegiatan yang ingin dia lakukan kena dampak emosi dari kejadian tersebut. Alhasil, hilang semangat hidup.

Kegiatan pemuas kebutuhan biologis ini seharusnya melibatkan dua emosi dari dua insan yang saling menyayangi, saling mencintai, saling komit, saling percaya terhadap satu sama lain, dan saling nafsu (loh?). Bukan pemaksaan dan ketidakrelaan.

Gua sih abstain aja kalo bicara tentang uda menikah atau belum.

Gua punya pendapat sendiri masalah ini, dan pastinya semua orang punya pendapat. Gua ngga pernah menekankan untuk membenarkan pendapat manapun.

Ingat, komitmen itu penting, percaya itu penting, jadi jangan mau berbuat hal sedewasa itu jika partnernya belum cukup matang untuk bertanggung jawab dan dapat berkomitmen.

Jangan juga jajan. Jajan yang gua maksud adalah, jajan yang ngemper di trotoar, buka kaca mobil sambil nanya “berapa mbak?”

Jangan.

Mahal tuh. Lagian, sangat rentan terhadap penyakit Sipilis. Gua ngga ngomongin AIDS loh. Tapi SIPILIS. Penyakit kelamin. Ih, astagfirullah.. amit-amit, jauuuh… huuuhh..

Nah, bagi orang-orang yang kadang kesehariannya sepi, ngga ada temen untuk melakukan kegiatan outdoor alias NGEKOST, pasang internet pula..

Hati-hati, computer meledak, tugas dan data-data belum di back up, dapet virus pula dari film haram yang lo download. Jadi saran gua, BACK-UP lah data-data penting kepunyaan lo.

Beberan ini bukan maksud untuk menyalurkan aspirasi seks gua (loh?), namun hanya sebagai review singkat tentang fenomena seks kalangan dari segi anak muda.

there’s a funny quote about sex

woman need a reason to have sex. Man just need a place.

-City Slickers movie

Maaf jika ada kesalahan.

Advertisements